Blogs Detail

...
Prospek Pasar Alat Berat 2026 Dibayangi Produk Impor Cina

2026-07-29 04:29:47


JAKARTA — Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi) memperkirakan prospek pasar alat berat pada semester II/2026 masih memiliki peluang pertumbuhan. Namun, industri dibayangi meningkatnya persaingan dari produk impor, khususnya truk dan alat berat asal Cina.Ketua Umum Hinabi, Widayat Raharjo mengatakan, permintaan alat berat di segmen small and medium diproyeksikan tetap tumbuh seiring meningkatnya aktivitas konstruksi dan sektor perkebunan, terutama kelapa sawit yang didorong implementasi program biodiesel nasional.Pemerintah diketahui telah mulai menerapkan mandatori biodiesel B50 atau campuran 50% minyak sawit ke dalam bahan bakar solar sejak Juli 2026 sebagai bagian dari upaya memperluas penggunaan energi baru terbarukan.Di sisi lain, Widayat menilai prospek alat berat kategori mesin besar masih belum menunjukkan peningkatan yang signifikan karena pelaku usaha pertambangan masih menunggu tambahan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB)."Sementara alat berat kelas big machine masih wait and see terutama menunggu penambahan RKAB di sektor mining," ujar Widayat kepada Bisnis, dikutip Senin (27/7/2026).Menurut dia, tantangan lain yang dihadapi industri saat ini adalah derasnya produk impor yang masuk ke Indonesia, terutama alat berat dan truk asal Cina. Hal tersebut berpotensi menekan permintaan terhadap produk manufaktur dalam negeri."Tantangan pelaku industri alat berat adalah persaingan alat berat semakin ketat dengan maraknya alat berat impor terutama dari Cina," jelas Widayat.Fenomena meningkatnya produk impor tidak hanya terjadi di industri alat berat, tetapi juga pada segmen kendaraan niaga yang banyak digunakan di sektor pertambangan dan logistik.Data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) menunjukkan pemerintah telah menerbitkan pertimbangan teknis impor sekitar 15.850 unit kendaraan niaga sepanjang Januari-Juni 2026. Berdasarkan negara asal merek, impor didominasi kendaraan dari Jepang sebesar 32,9%, diikuti India 31,8%, dan Cina 31,4%.Sebelumnya, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Setia Diarta mengingatkan industri kendaraan niaga nasional masih menghadapi tantangan akibat meningkatnya arus produk impor."Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi utilisasi kapasitas produksi nasional, mengurangi peluang peningkatan penggunaan komponen dalam negeri, serta berdampak terhadap keberlanjutan investasi dan penyerapan tenaga kerja," ujar Setia beberapa waktu lalu.Dia menambahkan, tren peningkatan impor kendaraan niaga juga berisiko menekan iklim investasi di sektor manufaktur domestik. Apabila kondisi tersebut terus berlanjut, kapasitas produksi nasional berpotensi tergerus dan meningkatkan risiko terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri otomotif.https://ekonomi.bisnis.com/read/20260727/257/1991330/prospek-pasar-alat-berat-2026-dibayangi-produk-impor-cina?utm_source=desktop&utm_medium=search

2

Kantor

7

Gudang

250+

Karyawan

19+ Tahun

Pengalaman

© 2024 Netsprogram. All rights reserved.