2026-07-09 03:04:23
JAKARTA — Harga bawang putih masih bertahan di level tinggi meski pemerintah telah menerbitkan izin untuk impor ratusan ribu ton komoditas tersebut. Pemerintah menilai pelemahan kurs rupiah dan kenaikan ongkos logistik global menjadi faktor yang menahan realisasi impor. Namun, pelaku usaha dan ekonom justru menilai persoalan utamanya terletak pada tata niaga impor yang selama ini belum efisien.Selama sebulan terakhir, harga bawang putih terus menunjukkan tren kenaikan. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) milik Kementerian Perdagangan (Kemendag), harga bawang putih kating naik dari Rp38.531 per kg pada 8 Juni 2026 menjadi sekitar Rp41.235 per kg pada 7 Juli 2026.Tren serupa juga terjadi pada bawang putih honan. Dalam periode yang sama, harganya naik dari Rp36.230 per kg pada 8 Juni 2026 menjadi Rp39.517 per kg pada 7 Juli 2026. Kondisi ini mencerminkan kenaikan harga terjadi secara merata pada komoditas bawang putih di pasar.Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan pada pekan pertama Juli 2026, harga bawang putih masih mengalami kenaikan di 263 kabupaten/kota, meningkat dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai 251 kabupaten/kota.Di tengah kenaikan harga bawang putih, pemerintah terus mendorong percepatan realisasi impor untuk menambah pasokan di pasar domestik. Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Bambang Wisnubroto mengatakan kebutuhan impor bawang putih tahun ini berdasarkan Neraca Komoditas yang ditetapkan sebesar 601.065 ton.Hingga 3 Juli 2026, Kemendag telah menerbitkan Persetujuan Impor (PI) sebanyak 384.605 ton melalui 59 PI atau sekitar 63,99% dari alokasi tersebut. Namun, realisasi impor baru mencapai 225.195 ton atau 58,55% dari PI yang telah diterbitkan.Namun, Bambang mengatakan pemerintah terus mengakselerasi realisasi impor agar tambahan pasokan bawang putih segera masuk ke pasar.“Dirjen Perdagangan Luar Negeri melalui suratnya juga sudah menyampaikan bagi importir yang sudah memiliki PI agar segera merealisasikan impornya. Dan ini akan kami terus monitor pergerakannya,” kata Bambang dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang disiarkan melalui kanal YouTube Kemendagri, Senin (6/7/2026).Menurut Bambang, harga bawang putih di tingkat importir kini sudah mencapai sekitar Rp29.000 per kilogram sehingga berdampak terhadap harga di tingkat eceran. Dia pun tak menampik kondisi tersebut dipengaruhi pelemahan kurs dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah. Selain itu, faktor produksi di negara asal juga memengaruhi pembentukan harga.“Dan memang hal ini dipicu, ini sama halnya seperti kedelai karena memang faktor kurs dolar ini sangat berpengaruh. Kemudian di China juga baru panen, ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan harga bawang putih itu sendiri,” terangnya.Hal ini tak lepas dari ketergantungan tinggi Indonesia terhadap impor untuk memenuhi 90% kebutuhan bawang putih domestik. Kondisi tersebut membuat harga bawang putih domestik sangat sensitif terhadap dinamika harga di negara pemasok, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, hingga kenaikan biaya logistik.Di samping penguatan kurs dolar, Kemendag mencatat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz turut memicu kenaikan tarif angkutan laut global. Kondisi tersebut tercermin dari peningkatan China Containerized Freight Index (CCFI) yang turut meningkatkan biaya pengadaan bawang putih impor.Kendati demikian, Kemendag memastikan akan mempercepat penerbitan PI sesuai alokasi yang telah ditetapkan dalam Neraca Komoditas sekaligus mendorong importir segera merealisasikan PI yang telah dimiliki.“Prinsipnya, kami akan segera mendorong para importir untuk segera merealisasikan PI yang sudah diterbitkan, yang 384.000 ton kurang lebih. Jadi akan segera kami akselerasi, termasuk untuk mengakselerasi penerbitan PI dari alokasi yang sudah ditetapkan sesuai dengan neraca komoditas,” jelasnya.https://ekonomi.bisnis.com/read/20260708/12/1986371/harga-masih-tinggi-importir-bawang-putih-tersandung-nilai-tukar-rupiah-dan-tata-niaga
© 2024 Netsprogram. All rights reserved.