2026-04-14 03:32:04
Jakarta - Praktik gelap ekspor impor di Indonesia disoroti Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Praktik ini disebut Gibran dapat menyebabkan modal dan kekayaan bangsa raib ke luar negeri.Praktik yang dimaksud adalah trade misinvoicing atau manipulasi faktur perdagangan. Gibran mengatakan praktik poles harga ini tersembunyi di balik angka-angka ekspor impor."Di balik arus besar perdagangan global ada gelombang lain yang tidak selalu terlihat di permukaan. Namun bisa menggerus keadilan dan kejujuran ekonomi serta menyebabkan larinya modal dan kekayaan bangsa ke luar negeri. Itu adalah praktik trade misinvoicing, sebuah praktik yang selama ini tersembunyi di balik angka-angka ekspor impor," papar Gibran dalam video yang diunggah di YouTube Sekretariat Wakil Presiden, dikutip Minggu (12/4/2026).Menurutnya praktik ini seringkali membuat modal mengalir keluar negeri tanpa tercatat secara jelas. Modusnya harga transaksi dilaporkan tidak sesuai dengan sebenarnya sehingga ada selisih pencatatan yang membuka celah dana gelap beredar.Dia menjelaskan kecurangan trade misinvoicing beragam bentuknya mulai dari under invoicing atau melaporkan harga lebih rendah hingga over invoicing atau melaporkan harga barang jauh dari harga aslinya."Kasus trade misinvoicing jelas merupakan bentuk pelanggaran hukum dan negara mengalami kerugian cukup besar akibat kecurangan ini," tegas Gibran.Dia memaparkan data sejak 2014 sampai 2023 nilai under invoicing ekspor diperkirakan mencapai US$ 401 miliar atau rata-rata US$ 40 miliar per tahun, atau sekitar Rp 680 triliun (kurs Rp 17.000) per tahun. Sedangkan nilai over invoicing ekspor tercatat US$ 252 miliar atau US$ 25 miliar per tahun, atau sekitar Rp 425 triliun per tahun.Dia memaparkan ada empat sektor komoditas yang paling rawan terkena manipulasi harga. Mulai dari ekspor impor logam mulia emas hingga ponsel pintar atau smartphone."Sektor terbesar ada pada perdagangan limbah, logam berlapis, logam mulia, serta smartphone," papar Gibran.4 Kerugian buat RIMenurutnya praktik nakal poles harga ekspor impor ini membuat Indonesia mengalami empat potensi kerugian. Pertama, hilangnya penerimaan pajak dan bea cukai dalam skala besar, setiap rupiah nilai ekspor atau impor yang dikecilkan secara curang mengakibatkan ada penerimaan negara yang tidak tertagih.Kerugian yang kedua adalah larinya modal ke luar negeri dan berkurangnya devisa negara karena selisih pembayaran ekspor impor yang tidak dilaporkan sering ditinggalkan di luar negeri."Akibatnya devisa hasil ekspor yang masuk ke Indonesia lebih kecil dari seharusnya," sebut Gibran.Ketiga, ada potensi masuknya dana gelap ke dalam negeri. Misinvoicing tak hanya soal uang hilang keluar tapi sebagian skenario justru memasukkan uang ilegal ke Indonesia yang umum dipakai untuk pencucian uang.Keempat, praktik gelap ini merugikan karena membuat iklim persaingan usaha tidak adil. Pelaku usaha yang jujur membayar pajak sesuai aturan akan kalah bersaing dari oknum yang bisa menjual barang lebih murah karena kecurangan dalam pelaporan invoice."Pada akhirnya mendorong semua pihak untuk ikut-ikutan curang demi bertahan," sebut Gibran.Gibran menekankan Presiden Prabowo Subianto telah berulang kali menegaskan langkah-langkah untuk menyelamatkan kekayaan negara harus diambil meskipun tidak selalu populer bagi sebagian pihak."Bagi beliau menjaga kekayaan nasional agar dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat hari ini, dan generasi mendatang adalah tanggung jawab moral dan konstitusional," pungkas Gibran menegaskan.https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8441088/gibran-ungkap-praktik-nakal-ekspor-impor-triliunan-mengalir-ke-luar-negeri#google_vignette
© 2024 Netsprogram. All rights reserved.