Blogs Detail

...
Celios Ramal Barang Impor China Murah Masih Dominasi Pasar RI Tahun Depan

2025-12-24 04:50:04


JAKARTA — Barang impor murah asal China diproyeksikan masih akan mendominasi peredaran di pasar Indonesia pada 2026, terutama melalui platform e-commerce. Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebelumnya mengakui daya saing produk asal China masih lebih kuat dibandingkan produk UMKM dalam negeri, terutama dari sisi harga dan kualitas. Kondisi ini dinilai mendorong pelaku UMKM lokal semakin memilih menjadi pedagang produk impor dibandingkan memproduksi barang sendiri. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai dominasi produk China masih akan berlanjut pada tahun depan.“Masih akan ada [proyeksi barang impor China tahun depan] dan tetap mendominasi peredaran barang, terutama di e-commerce,” kata Huda kepada Bisnis, Rabu (24/12/2025). Ke depan, Huda memperkirakan dominasi barang impor China akan semakin kuat, terutama jika kondisi ekonomi nasional belum sepenuhnya pulih dan daya beli masyarakat masih tertekan.“Jika kondisi tersebut berlanjut, maka tahun depan pun masih akan sama terkait barang dari China yang semakin banyak. Bahkan dengan kondisi ekonomi yang masih belum membaik daya belinya, saya rasa masyarakat akan mempertimbangkan barang impor dari China sebagai alternatif utama pembelian barang,” tuturnya. Menurut Huda, derasnya arus barang impor tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang dinilai masih terlalu longgar dalam mengatur masuknya produk luar negeri. Kondisi tersebut berdampak langsung pada perbedaan harga yang signifikan antara produk impor dan barang lokal. “Karena kebijakan pemerintah terlalu melonggarkan kebijakan terkait dengan barang impor yang pada akhirnya membuat harga barang impor lebih murah. Maka permintaan barang impor tidak mampu dibendung, mengalir deras termasuk barang yang sebenarnya bisa diproduksi dalam negeri,” ujarnya. Huda menilai, karakter konsumen Indonesia yang masih sangat berorientasi pada harga turut memperkuat dominasi produk impor. Dalam situasi daya beli yang terbatas, harga menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian. Menurutnya, ketika konsumen lebih memilih barang yang paling murah, maka permintaan terhadap barang berharga rendah, termasuk produk impor menjadi tinggi. Dalam kondisi seperti itu, pedagang atau pelaku usaha akan mengikuti arah permintaan pasar. Alhasil, sambung dia, tingginya permintaan terhadap barang impor akhirnya menciptakan insentif kuat bagi pedagang, termasuk UMKM, untuk menjual produk luar negeri ketimbang produk lokal. “Apalagi memproduksi barang sendiri yang tentu butuh modal besar, tapi jikalau tidak dilindungi dari ancaman barang impor, ya UMKM produsen akan rugi lebih tinggi,” jelasnya. Lebih lanjut, Huda juga mengungkap sejumlah faktor struktural yang membuat produk China jauh lebih murah. Salah satunya adalah skala industri di China yang sangat besar sehingga mampu menekan biaya produksi secara signifikan. Di samping itu, tambah dia, efisiensi logistik juga menjadi keunggulan produk China. Biaya pengiriman dari China ke Indonesia dinilai lebih murah dibandingkan distribusi logistik antarwilayah di dalam negeri, terutama ke pusat konsumsi di Pulau Jawa. Namun, jika kondisi tersebut terus dibiarkan tanpa kebijakan proteksi yang memadai, Indonesia berisiko kehilangan basis produksi domestik dan hanya berperan sebagai pasar konsumsi. “Jika terus dibiarkan, bangsa kita hanya menjadi konsumen,” pungkasnya.https://ekonomi.bisnis.com/read/20251224/12/1939307/celios-ramal-barang-impor-china-murah-masih-dominasi-pasar-ri-tahun-depan

2

Kantor

7

Gudang

250+

Karyawan

19+ Tahun

Pengalaman

© 2024 Netsprogram. All rights reserved.