2025-02-21 03:37:40
Asosiasi Produsen Serat & Benang Filamen Indonesia (APSyFI) mengungkapkan, industri tekstil dalam negeri tengah terancam oleh gempuran produk tekstil impor. Akibatnya, banyak perusahaan terpaksa gulung tikar.Diperkirakan nilai ekonomi industri tekstil ini mencapai Rp 235 triliun per tahun. Namun demikian, potensi tersebut bisa hilang karena gempuran produk tekstil impor.Ketua Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan, kondisi ini sangat disayangkan karena industri tekstil memiliki potensi besar untuk memberikan nilai tambah ekonomi.Misalnya, bahan baku seperti PX (Paraxylene) yang dibeli seharga Rp 5.000 per 0,30 kilogram, dapat menghasilkan nilai tambah menjadi 1 kg pakaian jadi senilai Rp 104.000 atau naik hingga 200 persen.Berdasarkan data APSyFI, per 2023 terdapat kebutuhan konsumsi garmen domestik sebesar 2,26 juta ton.Jika melihat kebutuhan tersebut ditambah nilai konsumsi garmen dalam negeri sebesar 15,18 miliar dollar AS, berarti nilai ekonomi industri tekstil mencapai Rp 235 triliun per tahun."Dari PX yang cuma Rp 5.000 kali kuantitinya, kita beli dari Pertamina hampir 600.000 metrik ton per tahun, jadi total nilainya sekitar Rp 10 triliun. Dari Rp 10 triliun itu, business size-nya bisa berkembang jadi Rp 235 triliun,” jelas Redma dalam keterangannya, dikutip Kamis (20/2/2025).Tidak hanya itu, kontribusi pajak dari industri tekstil juga signifikan. Dengan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 11 persen, dia memperkirakan pemerintah bisa mengumpulkan hingga Rp 25 triliun per tahun.Belum lagi dari kontribusi PPN impor tekstil, salah satunya komoditas kapas. Diketahui per 2023, konsumsi kapas di Indonesia mencapai 611.550 metrik ton dengan harga beli Rp 31.000 per kilogram.Artinya apabila impor kapas berjalan dengan benar, pajak yang dapat diterima negara sekitar Rp18,95 triliun per tahun."Dari PPN saja bisa mencapai Rp 25 triliun. Ini menunjukkan betapa besar multiplier effect dari industri tekstil terhadap ekonomi nasional," ucapnya.Namun potensi ini menemui jalan buntu akibat masuknya barang impor dan selundupan, terutama pada produk kain dan garmen. Hal ini berdampak langsung pada sektor benang dan polyester, yang kini mengalami penurunan kapasitas produksi."Kalau baju impor masuk, berarti kain lokal tidak dibutuhkan. Akhirnya kain impor juga masuk, pabrik benang dan poliester pun terkena imbas. Padahal, kapasitas produksi polyester kita cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik, tetapi pabrik-pabrik ini malah tutup karena serbuan impor," tuturnya.https://money.kompas.com/read/2025/02/20/145755326/banjiri-produk-tekstil-impor-ri-berpotensi-kehilangan-rp-235-triliun
© 2024 Netsprogram. All rights reserved.